Sejarah Awal Perkembangan Kambing
Kambing merupakan hewan piaraan tertua yang didomestikasi setelah anjing
dan domba. Domestikasi kambing pertama kali diperkirakan terjadi pada abad ke -
7 sebelum Masehi, atau dua abad setelah domestikasi domba. Domestikasi kambing pertama
kali terjadi oleh masyarakat yang hidup di Lembah Zawi Chemi Shanidar dan Gua
Shanidar di daerah Pegunungan Zagros Asia Barat yang sekarang merupakan daerah
di wilayah Irak Utara, kurang lebih sekitar 120 km dari Sungai Tigris (Gall,
1981; Devendra dan Burns, 1994; Moelijanto dan Wiryanta, 2002). Kambing yang
berkembang sekarang berasal dari nenek moyang bangsa kambing yang hidup di daerah-daerah
marginal dan berbatu / Capra Hircus
Aegagrus (Heriyadi, 2004).
Sampai saat ini diperkirakan terdapat lebih dari 300 bangsa kambing di seluruh
dunia. Berdasarkan jumlah tersebut, baru sekitar 81 bangsa kambing yang telah
diidentifikasi dan dideskripsikan dengan baik, minimum dapat dibedakan dari sisi
performa fisik yang menyangkut sifat-sifat kualitatif dan sifat-sifat
kuantitatif, serta hanya beberapa bangsa yang dapat dibedakan dari segi
komposisi darah dan gen (Heriyadi, 2001). Bangsa kambing dapat dikelompokkan
berdasarkan kegunaannya, yaitu kambing penghasil daging, susu, dan bulu
(mohair). Ada pula beberapa bangsa kambing yang tergolong tipe dwiguna (dual
purpose), seperti bangsa kambing PE (Pernakan Ettawa) yang tergolong tipe
daging dan susu (Heriyadi, 2004). Kambing termasuk ternak yang memiliki daya
adaptasi tinggi, khususnya dari sisi toleransinya terhadap berbagai jenis
hijauan, mulai dari jenis rumput-rumputan, leguminosa, rambanan, daun-daunan,
sampai dengan semak belukar yang biasanya tidak disukai oleh jenis ruminansia
lain, seperti sapi perah, sapi potong, kerbau, dan domba (Heriyadi, 2004).
Adapun taksonomi zoologi kambing sebagai berikut.
Kingdom :
Animalia
Filum :
Chordata
Kelas :
Mammalia
Ordo :
Artodactyla
Famili :
Bovidae
Subfamili :
Caprinae
Genus :
Capra
Spesies :
Capra Hircus
Sejarah Perkembangan Kambing Di Indonesia
Usaha peternakan kambing di Indonesia telah dikenal sejak dahulu kala.
Namun pengetahuan tentang kapan dimulainya proses domestikasi dan pembudidayaan
ternak kambing dari hewan liar, masih langka. Adanya bangsa kambing asli Indonesia
seperti kambing kacang, kambing samosir dan kambing marica memberikan petunjuk
bahwa penduduk pertama Indonesia telah mengenal kambing sekurang-kurangnya
melalui pemanfaatannya sebagai hasil perburuan. Dengan kedatangan bangsa-bangsa
Cina, India, Arab, Eropa dan lain-lain, maka ternak kambing yang dibawa serta
bercampur darah dengan ternak asli. Terjadilah kawin silang yang menghasilkan
ternak kambing keturunan atau peranakan dipelbagai daerah Indonesia. Disamping
itu, dalam jumlah yang banyak masih terdapat ternak kambing asli. Dengan
demikian terjadilah tiga kelompok besar bangsa ternak kambing yaitu kelompok
pertama adalah bangsa ternak kambing yang masih tergolong asli atau ternak yang
berdarah murni dan belum bercampur darah dengan bangsa ternak luar. Kelompok
kedua adalah kelompok "peranakan", yaitu bangsa ternak kambing yang
telah bercampur darah dengan bangsa ternak kambing luar. Kelompok ketiga adalah
bangsa ternak kambing luar yang masih diperkembang-biakan di Indonesia, baik
murni dari satu bangsa atau yang sudah bercampur darah antara sesama bangsa
ternak kambing "luar" tersebut.
Pentahapan waktu didalam mempelajari sejarah peternakan kambing di
Indonesia, disesuaikan dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia sendiri, guna
melihat perkembangan usaha peternakan dalam kurun waktu suatu tahap sejarah.
Didalam kurun waktu tersebut dapat dipelajari sejauh mana pemerintah dikala itu
memperhatikan perkembangan bidang peternakan kambing atau segi pemanfaatan
ternak kambing oleh penduduk diwaktu itu.
Jenis – Jenis Kambing di Indonesia
Kambing atau sering dikenal sebagai ternak ruminansia kecil merupakan
ternak herbivora yang sangat populer di kalangan petani di Indonesia, terutama
yang tinggal di pulau jawa. Oleh peternak, kambing sudah lama diusahakan
sebagai usaha sampingan atau tabungan karena pemeliharaan dan pemasaran hasil
produksinya relatif mudah. Produksi yang dihasilkan dari ternak kambing yaitu
daging, susu, kulit, bulu, dan kotoran sebagi pupuk yang sangat bermanfaat. Adapun
jenis – jenis kambing yang ada di Indonesia adalah sebagai berikut:
Kambing Kacang
Kambing Kacang merupakan kambing asli Indonesia. Kambing Kacang sangat
cepat berkembang biak, pada umur 15-18 bulan sudah bisa menghasilkan
keturunan. Kambing ini cocok sebagai pengasil daging dan kulit dan
bersifat prolifik, sifatnya lincah, tahan terhadap berbagai kondisi dan
mampu beradaptasi dengan baik di berbagai lingkungan yang berbeda termasuk
dalam kondisi pemeliharaan yang sangat sederhana.memiliki daya reproduksi
yang sangat tinggi. Kambing kacang jantan dan betina keduanya merupakan tipe
kambing pedaging.
Ciri-ciri kambing kacang :
- Tubuh kambing relatif kecil dengan kepala ringan dan kecil ;
- Telinganya tegak, berbulu lurus dan pendek ;
- Pada umumnya memiliki warna bulu tunggal putih, hitam, coklat, atau kombinasi ketiganya ;
- Kambing jantan maupun betina memiliki dua tanduk pendek ;
- Berat tubuh jantan dewasa dapat mencapai 30 kg, serta betina dewasa mencapai 25 kg ;
- Tinggi yang jantan 60 - 65 cm, sedangkan yang betina 56 cm ;
- Memiliki bulu pendek pada seluruh tubuh, kecuali pada ekor dan dagu, pada kambing jantan juga tumbuh bulu panjang sepanjang garis leher, pundak dan punggung sampai ekor dan pantat.
Kambing Marica
Kambing Marica terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan, merupakan
salah satu genotipe kambing asli Indonesia yang menurut laporan FAO sudah
termasuk kategori langka dan hampir punah (endargement). Daerah populasi
kambing Marica dijumpai di sekitar Kabupaten Maros, Kabupaten Jeneponto,
Kabupaten Sopeng dan daerah Makassar di Propinsi Sulawesi
Selatan. Kambing Marica punya potensi genetik yang mampu beradaptasi baik
di daerah agro-ekosistem lahan kering, dimana curah hujan sepanjang tahun
sangat rendah. Kambing Marica dapat bertahan hidup pada musim kemarau
walau hanya memakan rumput-rumput kering di daerah tanah
berbatu-batu. Ciri yang paling khas pada kambing ini adalah telinganya
tegak dan relatif kecil pendek dibanding telinga kambing kacang. Tanduk
pendek dan kecil serta kelihatan lincah dan agresif.
Kambing Samosir
Berdasarkan sejarahnya kambing ini dipelihara penduduk setempat
secara turun temurun di Pulau Samosir, di tengah Danau Toba, Kabupaten
Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Kambing Samosir pada mulanya digunakan
untuk bahan upacara persembahan pada acara keagamaan salah satu aliran
kepercayaan aninisme (Parmalim) oleh penduduk setempat. Kambing yang
dipersembahkan harus yang berwama putih, maka secara alami penduduk
setempat sudah selektif untuk memelihara kambing mereka mengutamakan yang
berwarna putih. Kambing Samosir ini bisa menyesuaikan diri dengan kondisi
ekosistem lahan kering dan berbatu-batu, walaupun pada musim kemarau
biasanya rumput sangat sulit dan kering. Kondisi pulau Samosir yang
topografinya berbukit, ternyata kambing ini dapat beradaptasi dan
berkembang biak dengan baik.
Tubuh kambing Samosir dewasa yaitu rataan bobot badan betina 26 - 32 kg;
panjang badan 57 - 63 cm; tinggi pundak 50 - 56 cm; tinggi pinggul 53 - 59 cm;
dalam dada 28 - 33 cm dan lebar dada 17 - 20 cm. Berdasarkan ukuran
morfologik tubuh, bahwa kambing spesifik lokal Samosir ini hampir sama dengan
kambing Kacang yang ada di Sumatera Utara, yang membedakannya terhadap kambing
Kacang yaitu fenotipe warna tubuh yang dominan putih dengan hasil observasi
39,18% warna tubuh putih dan 60,82% warna tubuh belang putih hitam. Pemberian
nama kambing Samosir pada saat ini masih secara lokal dan dikenal dengan nama
Kambing Putih atau Kambing Batak.
Kambing Gembrong
Asal kambing Gembrong terdapat di daerah kawasan Timur Pulau Bali
terutama di Kabupaten Karangasem. Ciri khas dari kambing ini adalah
berbulu panjang. Panjang bulu sekitar berkisar 15-25 cm, bahkan rambut
pada bagian kepala sampai menutupi muka dan telinga. Rambut panjang
terdapat pada kambing jantan, sedangkan kambing Gembrong betina berbulu
pendek berkisar 2-3 cm. Warna tubuh dominan kambing Gembrong pada umumnya
putih (61,5%) sebahagian berwarna coklat muda (23,08%) dan coklat
(15,38%). Pola warna tubuh umumnya adalah satu warna sekitar 69,23% dan
sisanya terdiri dari dua warna 15,38% dan tiga warna 15,38%. Rataan litter
size kambing Gembrong adalah 1,25. Rataan bobot lahir tunggal 2 kg dan
kembar dua 1,5 kg. Tingkat kematian prasapih 20%.Pertama kali melihat
hewan ini seperti melihat anjing berbulu panjang dan lebat, padahal kambing.
Melihat badannya memang mirip kambing, tetapi bila melihat bulunya yang lebat
mirip anjing. Dari badan hingga kepala, hewan ini juga hampir tertutup
seluruhnya oleh bulu. Itulah kambing Gembrong, kambing asal Bali yang hampir
punah.
Ciri khas kambing Gembrong jantan berbulu panjang lebat dan mengkilap,
yang tumbuh mulai dari kepala hingga ekor. Bila dibiarkan, panjang bulu bisa
mencapai 25—30 cm. Setiap 12—16 bulan sekali, bulunya mesti dicukur. Jika
tidak, bulu bagian kepala dapat menutupi mata dan telinga, sehingga akan mempersulit
kambing saat makan. Sedangkan bentuk dan ukuran tubuh kambing betina mirip
kambing kacang. Tapi pada bagian bawah perut melebar. Kambing gembrong betina
juga bertanduk, namun lebih pendek dan oval. Rambut panjang terdapat pada
kambing jantan, sedangkan kambing Gembrong betina berbulu pendek berkisar 2-3
cm.
Warna tubuh dominan kambing Gembrong pada umumnya putih sebagian berwarna coklat muda dan coklat. Pola warna tubuh kebanyakan satu warna, sebagian lagi dua - sampai tiga warna. Tinggi kambing (gumba) 58 - 65 cm, bobot badan kambing dewasa 32-45 kg. Kambing jantan berjumbai pada dahi. Jumbai terkadang menutup mata dan muka kambing. Kambing Gembrong ini dulunya merupakan persilangan antara kambing Kashmir dengan kambing Turki. Kedua jenis kambing itu masuk ke Bali dari luar negeri sebagai hadiah untuk seorang bangsawan Bali, yang kemudian berkembang sampai sekarang di daerah Bali.
Warna tubuh dominan kambing Gembrong pada umumnya putih sebagian berwarna coklat muda dan coklat. Pola warna tubuh kebanyakan satu warna, sebagian lagi dua - sampai tiga warna. Tinggi kambing (gumba) 58 - 65 cm, bobot badan kambing dewasa 32-45 kg. Kambing jantan berjumbai pada dahi. Jumbai terkadang menutup mata dan muka kambing. Kambing Gembrong ini dulunya merupakan persilangan antara kambing Kashmir dengan kambing Turki. Kedua jenis kambing itu masuk ke Bali dari luar negeri sebagai hadiah untuk seorang bangsawan Bali, yang kemudian berkembang sampai sekarang di daerah Bali.
Kambing Muara
Kambing Muara dijumpai di daerah Kecamatan Muara, Kabupaten
Tapanuli Utara di Propinsi Sumatera Utara. Dari segi penampilannya kambing
ini nampak gagah, tubuhnya kompak dan sebaran warna bulu bervariasi antara
warna bulu coklat kemerahan, putih dan ada juga berwarna bulu hitam. Bobot
kambing Muara ini lebih besar dari pada kambing Kacang dan kelihatan prolifik. Kambing
Muara ini sering juga beranak dua sampai empat sekelahiran (prolifik). Walaupun
anaknya empat ternyata dapat hidup sampai besar walaupun tanpa pakai susu
tambahan dan pakan tambahan tetapi penampilan anak cukup sehat,
tidak terlalu jauh berbeda dengan penampilan anak tunggal saat dilahirkan.
Hal ini diduga disebabkan oleh produksi susu kambing relatif baik untuk
kebutuhan anak kambing 4 ekor.
Kambing Kosta
Lokasi penyebaran kambing Kosta ada di sekitar Jakarta dan Propinsi
Banten. Kambing ini dilaporkan mempunyai bentuk tubuh sedang, hidung rata
dan kadangkadang ada yang melengkung, tanduk pendek, bulu pendek. Kambing
ini diduga terbentuk berasal dari persilangan kambing Kacang dan kambing
Khasmir (kambing impor). Hasil pengamatan, ternyata sebaran warna
dari kambing Kosta ini adalah coklat tua sampai hitam. Dengan presentase
terbanyak hitam (61 %), coklat tua (20%), coklat muda (10,2%), coklat
merah (5,8%), dan abu-abu (3,4%). Pola warna tubuh umumnya terdiri dari 2
warna, dan bagian yang belang didominasi oleh warna putih.Kambing Kosta
terdapat di Kabupaten Serang, Pandeglang, dan disekitarnya serta ditemukan pula
dalam populasi kecil di wilayah Tangerang dan DKI Jakarta. Selama ini
masyarakat hanya mengenal Kambing Kacang sebagai kambing asli Indonesia, namun
karena bentuk dan performa Kambing Kosta menyerupai Kambing Kacang, sering
sulit dibedakan antara Kambing Kosta dengan Kambing Kacang, padahal bila
diamati secara seksama terdapat perbedaan yang cukup signifikan.
Salah satu ciri khas Kambing Kosta adalah terdapatnya motif garis yang
sejajar pada bagian kiri dan kanan muka, selain itu terdapat pula ciri khas
yang dimiliki oleh Kambing Kosta yaitu bulu rewos di bagian kaki belakang mirip
bulu rewos pada Kambing Peranakan Ettawa (PE), namun tidak sepanjang bulu rewos
pada Kambing PE dengan tekstur bulu yang agak tebal dan halus. Tubuh Kambing
Kosta berbentuk besar ke bagian belakang sehingga cocok dan potensial untuk
dijadikan tipe pedaging. Saat ini populasi Kambing Kosta terus menyusut.
Kambing Ettawa (Kambing Jamnapari)
Kambing Ettawa atau dikenal juga dengan nama Kambing Jamnapari,
merupakan jenis kambing unggul yang dapat diternakkan sebagai kambing penghasil
susu maupun sebagai kambing penghasil daging. Kambing Ettawa ini
didatangkan dari India.
Adapun ciri-ciri Kambing Ettawa :
- Badannya besar, tinggi gumba kambing jantan 90 cm hingga 127 cm dan yang betina mencapai 92 cm;
- Bobot yang jantan bisa mencapai 91 kg, sedangkan betina hanya mencapai 63 kg ;
- Telinganya panjang dan terkulai ke bawah ;
- Dahi dan hidungnya cembung ;
- Kambing jantan maupun betina bertanduk pendek ;
- Kambing Etawa mampu menghasilkan susu hingga tiga liter per hari.
Kambing PE (Peranakan Etawa)
Kambing ini merupakan hasil persilangan antara kambing Etawa dengan
kambing lokal/Kacang, dengan tujuan lebih mampu beradaptasi dengan kondisi
Indonesia. Kambing ini dikenal sebagai kambing PE (Peranakan Etawa), dan saat
ini juga dianggap sebagai kambing Lokal.
Kambing PE berukuran hampir sama dengan Etawa namun lebih adaptif
terhadap lingkungan lokal Indonesia. Tanda-tanda tubuhnya berada diantara
kambing Kacang dan kambing Etawa. Jadi ada yang lebih ke arah kambing Etawa,
dan sebagian ada yang lebih ke arah kambing Kacang.
Kambing ini awalnya tersebar di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa, dan
saat ini hampir di seluruh Indonesia. Pejantan mempunyai sex-libido yang
tinggi, sifat inilah yang membedakan dengan kambing Etawa.
Ciri-ciri kambing Peranakan Etawa :
- Warna bulu belang hitam, putih, merah, coklat dan kadang putih ;
- Badannya besar sebagaimana Etawa, bobot yang jantan bisa mencapai 91 kg, sedangkan betina mencapai 63 kg ;
- Telinganya panjang dan terkulai ke bawah, bergelambir yang cukup besar ;
- Dahi dan hidungnya cembung ;
- Kambing jantan maupun betina bertanduk kecil/pendek ;
- Daerah belakang paha, ekor dan dagu berbulu panjang ;
- Kambing Peranakan Etawa mampu menghasilkan susu hingga tiga liter per hari.
Kambing Jawarandu
Kambing Jawarandu (Jawa Randu) memiliki nama lain Bligon, Gumbolo, Koplo
dan Kacukan. Kambing ini merupakan hasil silangan dari kambing peranakan Ettawa
dengan kambing Kacang, namun sifat fisik kambing kacangnya yang lebih dominan.
Untuk menghemat biasanya peternak susu kambing memilih kambing ini untuk
diternakkan dan diambil susunya. Kambing ini dapat menghasilkan susu sebanyak
1,5 liter per hari.
Ciri-ciri kambing Jawarandu :
- Memiliki tubuh lebih kecil dari kambing ettawa, dengan bobot kambing jantan dewasa dapat lebih dari 40 kg, sedangkan betina dapat mencapai bobot 40 kg ;
- Baik jantan maupun betina bertanduk ;
- Memiliki telinga lebar terbuka, panjang dan terkulai ;
- Baik jantan maupun betina merupakan tipe pedaging dan penghasil susu.
Kambing Saanen
Kambing Saanen ini aslinya berasal dari lembah Saanen, Swiss
(Switzerland) bagian barat. Merupakan salah satu jenis kambing terbesar di
Swiss dan penghasil susu kambing yang terkenal. Sulit berkembang di wilayah
tropis karena kepekaannya terhadap matahari. Oleh karena itu di Indonesia jenis
kambing ini disilangkan lagi dengan jenis kambing lain yang lebih resisten
terhadap cuaca tropis dan tetap diberi nama kambing Saanen, antara lain dengan
kambing peranakan etawa.
Ciri-ciri kambing Saanen :
- Bulunya pendek berwarna putih atau krim dengan titik hitam di hidung, telinga dan di kelenjar susu ;
- Hidungnya lurus dan muka berupa segitiga ;
- Telinganya sederhana dan tegak ke sebelah dan ke depan ;
- Ekornya tipis dan pendek ;
- Jantan dan betinanya bertanduk ;
- Berat dewasa 68-91 kg (Jantan) dan 36kg – 63kg (Betina), tinggi ideal kambing ini 81 cm dengan berat 61 kg, di saat tingginya 94 cm beratnya 81 kg ;
- Produksi susu 740 kg/ms laktasi.
Kambing Boer
Habitat Kambing Boer aslinya berasal dari Afrika Selatan dan telah
menjadi ternak yang ter-registrasi selama lebih dari 65 tahun. Kata “Boer”
artinya petani. Kambing Boer merupakan kambing pedaging yang sesungguhnya
karena pertumbuhannya sangat cepat. Kambing ini pada umur lima hingga enam
bulan sudah dapat mencapai berat 35 – 45 kg, dengan rata-rata pertambahan berat
tubuh antara 0,02 – 0,04 kg per hari. Keragaman ini tergantung pada banyaknya
susu dari induk dan ransum pakan sehari-harinya. Kambing Boer jantan akan
tumbuh dengan berat badan 120 – 150 kg pada saat dewasa (umur 2-3 tahun),
sedangkan Betina dewasa (umur 2-3 tahun) akan mempunyai berat 80 – 90 kg. Boer
betina maupun jantan keduanya bertanduk. Dibandingkan dengan kambing perah
lokal, persentase daging pada karkas kambing Boer jauh lebih tinggi dan mencapai
40% – 50% dari berat tubuhnya.
Kambing Boer dapat dikenali dengan mudah dari tubuhnya yang lebar,
panjang, dalam, berbulu putih, berkaki pendek, berhidung cembung, bertelinga
panjang menggantung, berkepala warna coklat kemerahan atau coklat muda hingga coklat
tua. Beberapa kambing Boer memiliki garis putih ke bawah di wajahnya. Kulitnya
berwarna coklat yang melindungi dirinya dari kanker kulit akibat sengatan sinar
matahari langsung. Kambing ini sangat suka berjemur di siang hari.
Kambing Boer dapat hidup pada suhu lingkungan yang ekstrim, mulai dari
suhu sangat dingin (-25 derajat celcius) hingga sangat panas (43 derajat
celcius) dan mudah beradaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan. Tahan
terhadap penyakit. Mereka dapat hidup di kawasan semak belukar, lereng gunung
yang berbatu atau di padang rumput. Secara alamiah mereka adalah hewan yang
suka meramban sehingga lebih menyukai daun-daunan, tanaman semak daripada
rumput.
Kambing Boer Jantan
Boer jantan bertubuh kokoh dan kuat sekali. Pundaknya luas dan ke
belakang dipenuhi dengan pantat yang berotot. Boer jantan dapat kawin di bulan
apa saja sepanjang tahun. Mereka berbau tajam karena hal ini untuk memikat
betina. Seekor pejantan dapat aktif kawin pada umur 7-8 bulan, tetapi
disarankan agar satu pejantan tidak melayani lebih dari 8 – 10 betina sampai
pejantan itu berumur sekitar satu tahun. Boer jantan dewasa (2 – 3 tahun) dapat
melayani 30 – 40 betina. Disarankan agar semua pejantan dipisahkan dari betina
pada umur 3 bulan agar tidak terjadi perkawinan yang tidak direncanakan. Seekor
pejantan dapat mengawini hingga selama 7 – 8 tahun.
Kambing Boer Betina
Boer betina tumbuh seperti jantan, tetapi tampak sangat feminin dengan
kepala dan leher ramping. Ia sangat jinak dan pada dasarnya tidak banyak
berulah. Ia dapat dikawinkan pada umur 10 – 12 bulan, tergantung besar
tubuhnya. Kebuntingan untuk kambing adalah 5 bulan. Ia mampu melahirkan
anak-anak tiga kali dalam dua tahun. Betina umur satu tahunan dapat
menghasilkan 1 – 2 anak. Setelah beranak pertama, ia biasanya akan beranak
kembar dua, tiga, bahkan empat.
Boer induk menghasilkan susu dengan kandungan lemak sangat tinggi yang
cukup untuk disusu anak-anaknya. Ketika anaknya berumur 2½ – 3½ bulan induk
mulai kering. Boer betina mempunyai dua hingga empat puting, tetapi kadangkala
tidak semuanya menghasilkan susu. Sebagai ternak yang kawinnya tidak musiman,
ia dapat dikawinkan lagi tiga bulan setelah melahirkan. Birahinya dapat
dideteksi dari ekor yang bergerak-gerak cepat disebut “flagging”. Boer betina
mampu menjadi induk hingga selama 5 – 8 tahun.
Kambing Boerawa
Kambing Boerawa merupakan kambing hasil persilangan antara kambing Boer jantan dengan kambing Peranakan Etawah (PE) betina. Ternak hasil persilangan kedua jenis kambing tadi disebut dengan Boerawa yakni singkatan dari kata Boer dan Peranakan Etawah. Kambing hasil persilangan ini mulai berkembang dan banyak jumlahnya di Propinsi Lampung, walaupun upaya persilangan antara kambing Boer dengan kambing lokal telah dilakukan di beberapa propinsi lainnya seperti Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan.
sumber: https://dodymisa.blogspot.co.id











